AUTOBIOGRAFI


GURATAN KEHIDUPANKU



Winda dan Sahabat
Wahyu Windarti adalah sebuah nama yang tercipta untukku sejak 19 tahun lalu. Tepat di Semarang pada tanggal 21 Juni 1995 aku terlahir di dunia ini dari pasangan suami istri yang bernama Kumani dan Pasirah. Nama Wahyu memberikan arti sebuah petunjuk, sedangkan Windarti berasal dari bahasa jawa Wijaksono Ngudar Pangerten yang artinya bijaksana dan menyebar pengertian (ilmu). Jika kedua nama tersebut diartikan secara bersamaan maka dapat mengandung arti petunjuk dalam kebijaksanaan dan dapat menyebarkan pengertian (ilmu). Menurut ayah, kata Wahyu Windarti diharapkan mampu menjadi seorang wanita yang selalu diberikan petunjuk oleh Allah, dapat menjadi seseorang yang bijaksana dan bisa menyebarkan ilmu pengetahuan.

Ayah - Winda - Ibu
Aku memiliki dua saudara kandung. Saudara pertama adalah kakakku laki-laki yang bernama Sutrisno. Dia bekerja sebagai karyawan di salah satu Instansi pemerintah yaitu IAIN Walisongo Semarang. Saudara kedua adalah kakakku perempuan yang bernama Nanik Setiyawati. Dia masih bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 06 Semarang. Dia mengambil konsentrasi dalam jurusan Tata Busana.

 
Kakak Laki-laki (Sutrisno)


Kakak perempuan (Nanik Setiyawati)
Dua belas bulan terhitung setelah hari kelahiranku, aku sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan lagi dari orang tua. Selain berjalan, aku juga diajarkan makan sendiri dan mulai mengenal berbagai kosa kata baru dalam berbicara. Bermula dari bahasa jawa yang diajarkan orang tua, aku mulai bisa berbahasa jawa dengan baik semenjak 1 tahun setelahnya.
Ketika memasuki umur ke lima tahun, ibu mencoba mendaftarkanku di salah satu sekolah islam yakni Raudhatul Athfal (RA) Al-Hidayah. Disana aku menemukan berbagai pengalaman baru. Dari memiliki banyak teman yang berasal dari kelas A1 dan A2, jika dihitung keseluruhan mencapai 50 anak termasuk aku, dan aku menemukan sosok seorang guru, yang sampai kini beliau masih juga mengajar disana. Tidak seperti teman-temanku yang lainnya, aku hanya menempuh pendidikan di RA Al-Hidayah 1 tahun saja dan lulus dengan keterampilan yang baik dalam hal berbicara, berhitung dan menghafal. Hal ini terbukti saat akhirussanah aku dipercaya untuk menyampaikan pidato perpisahan didepan orang tua siswa dan tamu undangan pada saat itu. Selain itu aku juga sering ditunjuk untuk mengikuti lomba pidato diberbagai tempat.
Selepas aku lulus dari pendidikan di RA, Aku melanjutkan pendidikan di sekolah dasar. Dengan berbagai pertimbangan dari orang tua, akhirnya aku bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Purwoyoso 01 Semarang. Ayahku yang sewaktu masih bekerja di DPU Pemerintah Kota Semarang dengan penghasilan yang cukup sedikit dan memiliki beban tanggungan biaya sekolah kakakku di SMKN 06 juga biaya masuk sekolahku yang cukup mahal, jelas tidak akan mungkin dalam waktu bersamaan ayah dapat menanggung semuanya. Namun Allah mentakdirkan hal lain. Kakakku memperoleh beasiswa dari sekolahnya, sehingga dapat memenuhi biaya kegiatan praktikumnya. Sedangkan aku pun juga masih dapat bersekolah.
Selama berada di bangku SD, aku selalu rutin mengikuti kegiatan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang diadakan oleh sekolah. Alangkah bangganya aku, ketika hafalan surah An Nasr satu-satunya anak yang dapat menghafal dengan benar adalah aku. Pada saat itu juga guru TPQ memberikan sebuah hadiah untukku. Menginjak umurku yang kesembilan tahun aku dikaruniai suatu kelebihan dibanding teman-temanku yang lainnya. Aku sudah bisa menghafal surat Al Qur’an sampai dengan Adh Dhuha. Perjalanan pendidikanku tidak berhenti disini saja, selama menempuh pendidikan di SD, setiap semester aku mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu peringkat lima besar di kelas dan pastinya selalu mendapatkan beasiswa pendidikan yang kemudian dipergunakan untuk membayar pembelian buku paket SD.
Enam tahun berlalu, aku pun dinyatakan lulus dengan nilai yang baik. Detik-detik menjelang Pengumuman penerimaan peserta didik Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di kota Semarang adalah hal yang sangat mendebarkan bagiku. Bagaimana tidak, hal inilah yang menjadi masalah dalam keluargaku. Lagi-lagi biaya masuk sekolah yang menjadi penghalangnya. Akan tetapi takdir berkata lain. Setelah aku dinyatakan resmi diterima di SMPN 18 Semarang, aku mendapat beasiswa bebas biaya uang masuk. Seiring berjalannya waktu, beasiswa itu sangat membantuku. Selain mendapat beasiswa uang masuk, aku juga mendapatkan keringanan biaya sekolah perbulannya berkat prestasi yang telah aku raih. Selama tiga tahun aku menyelesaikan study di SMP dengan peringkat 1 paralel dikelas, aku pun juga mendapatkan NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebesar 34,35. NEM tersebut akhirnya membawaku menuju pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 08 Semarang.
Waktu bergulir semakin cepat saja. Pendidikan di SMAN 08 semakin membawaku dalam suatu kemiskinan hidup. Didalam situasi ekonomi keluargaku yang semakin melemah, ditambah kedua orang tuaku yang tidak bekerja, aku terpaksa mencari uang saku tambahan dengan berjualan arem-arem (nasi isi sambal goreng tahu yang dikepal dalam balutan daun pisang) di lingkungan sekolah. Usahaku berjalan sempurna dan perlahan dapat memberikan sedikit kontribusi keuanganku. Tahun kedua bersekolah di SMA, aku mulai aktif di Organisasi Rohani Islam. Sudah bukan barang langka lagi aku terjun dalam dunia Organisasi. Sebelumnya di SMP aku sudah ikut bergabung dalam Organiasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai Sekretaris pertama. Dan untuk yang kedua kalinya juga bergabung di OSIS SMAN 08 sebagai Sie Bahasa Inggris. Melalui organisasi inilah yang kemudian memberikan pencerahan kepadaku bahwa Islam itu indah. Semenjak bergabung dengan Rohani Islam, aku mulai menata diri dengan berhijab dan merubah sikap-sikap yang selama ini tidak sesuai dengan kepribadian Islam.
Lulus dari bangku SMA, aku menjadi semakin bingung untuk melakukan apa. Harus bekerjakah atau melanjutkan kuliah seperti teman-temanku yang lainnya. Kakakku laki-laki ternyata memiliki pertimbangan lain, dia sanggup membiayai kuliahku tetapi dengan syarat kuliah di IAIN Walisongo Semarang mengambil konsentrasi Pendidikan Matematika. Akhirnya aku menyetujui keinginannya dengan pertimbangan “mumpung masih ada kesempatan, kapan lagi bisa seperti ini?” Semester awal aku belajar di kampus sekaligus bekerja part time di sebuah warung makanan dekat dengan kampusku. Aku melakukan semua ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku yang semakin membengkak. Walaupun biaya kuliah ditanggung oleh kakak, namun untuk urusan lain-lain aku tidak diberikan tunjangan berapapun. Jadi mau tidak mau aku harus bekerja keras untuk mendapatkan uang saku.
Pada semester kedua aku terpaksa melepas pekerjaanku karena ada tuntutan dari kakak yaitu membuka Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) secara mandiri sekaligus mengajar juga disana. Dan pada akhirnya melalui lembaga tersebut aku bisa mendapatkan sebuah laptop hasil kerja kerasku dalam mengajar.
Menempuh semester ketiga ini, aku sudah memiliki suatu cita-cita dimana harus aku wujudkan sedini mungkin. Menjadi seorang guru matematika sekaligus guru motivator dalam kehidupan. Alasan yang melatarbelakangi aku memilih profesi tersebut adalah guru merupakan seseorang yang pandai dalam segala hal. Namun tidak hanya itu saja, guru juga dapat menebar ilmu kepada orang lain sekaligus dapat memberikan inspirasi agar orang-orang disekitarnya tidak lantas menyerah pada hidupnya, akan tetapi bisa terus bertahan dalam kondisi sesulit apapun.
Untuk menjadi seorang guru atau teladan bagi orang lain membutuhkan hal-hal yang tidak mudah. Aku harus menjadikan diriku sukses dahulu baru bisa memberikan inspirasi bagi orang lain. Dengan demikian, aku berniat untuk benar-benar fokus pada kuliahku dan kemudian menjadikan lulusan Sarjanaku dapat bermanfaat bagi masyarakat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS



Melawan ISIS
Sebuah Organisasi yang menamakan diri dengan Daulah Islamiyah atau Islamic State (IS) telah menjadi topik pembicaraan yang ramai di media massa. IS merupakan kelompok yang didukung dan didirikan oleh berbagai kelompok Sunni dan sejumlah suku Irak yang mengaku Sunni. IS dikenal juga sebagai aliran Islam yang memiliki interpretasi atau tafsir yang keras dan mengajarkan kekerasan untuk mencapai tujuannnya, seperti melakukan bom bunuh diri, menyiksa, dan memukuli orang yang tidak sependapat. Nama IS yang sebelumnya bernama Islamic State of Irak and Syiria (ISIS) menyebar dengan cepat terutama melalui media sosial di internet yaitu Youtube. Video yang diunggah oleh salah satu pengikut ISIS inilah yang kemudian banyak meresahkan masyarakat dunia. Bagaimana tidak, dalam video yang berdurasi beberapa menit itu menggambarkan suasana agama Islam yang penuh dengan paksaan dan kekerasan. Bahkan diperlihatkan juga salah satu tujuan ISIS membentuk negara-negara di dunia menjadi satu negara Islam (konsep kekhilafahan). Terlebih negara Indonesia yang menganut negara Pancasila, konsep kekhilafahan inilah jelas tidak relevan dengan umat Islam di Indonesia pada umumnya yang menganut berbeda-beda mazhab dalam mengamalkan ajaran Islam.
Di Indonesia sendiri, ISIS ramai dibahas ketika diketahui ada beberapa orang yang menyatakan dukungannya terhadap ISIS. Melihat fenomena yang ada ISIS lahir dari stabilitas politik, sosial dan agama. Ekspansi yang dilakukan oleh ISIS  hingga ke Indonesia akan menjadikan suatu permasalahan yang besar dan harus diwaspadai. Sebab, hal ini akan menerusak pundi-pundi kehidupan bangsa dan juga dapat merusak kedaulatan sebuah negara, dimana Indonesia adalah negara kesatuan yang utuh dengan Pancasila sebagai landasannya. Merebaknya ISIS di Indonesia akan menjadi ancaman terbesar, karena pendekatan ISIS dengan menggunakan semangat sektarianisme terhadap umat islam yang ada di Indonesia.
Negara Indonesia merupakan negara yang mayoritas muslim sudah selayaknya ikut mengkhawatirkan jika kekuatan ISIS melalui paham-pahamnya yang radikal mampu menghancurkan keutuhan negara Indonesia. Hal ini bisa saja terjadi karena kekuatan suatu negara saat ini berlandaskan suatu keyakinan. Agama menjadi salah satu penentu kebijakan-kebijakan hukum yang ada sehingga penjajahan yang sangat kompleks ini adalah penjajahan ideologi dalam agama untuk merubah mindset warga negara. Oleh sebab itu negara kesatuan Indonesia yang utuh ini harus tetaplah dijaga dan dipelihara dengan melakukan filtrasi datangnya pemahaman asing, mempelajari keyakinan secara utuh dan konseptual, serta meningkatkan toleransi dan solidaritas antar sesama. Karena dengan semangat persatuan dan kesatuan juga berpegang teguh pada Pancasila sebagai falsafah bangsa, maka Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika.
Tidak hanya dengan semangat saja, seluruh civitas negara juga harus ikut aktif berpartisipasi dalam mencegah ISIS yang beredar di wilayah Nusantara. Dengan menjamin ketahanan Indonesia terhadap kemungkinan penetrasi  dan pengembangan ISIS di negeri ini adalah cara yang paling efektif diterapkan. Operasi penumpasan melalui taktik militer juga bermanfaat untuk membatasi gerakan kelompok semacam itu. Akan tetapi, operasi tersebut tidak akan berlangsung lama, karena kaum militan selalu memiliki pedoman bahwa banyak cara untuk meraih tujuan mereka. Maka tidak menutup kemungkinan mereka akan terus melalukan ekspansi secara meluas dengan cara apapun mereka halalkan.
Setelah mengetahui bagaimana peranan ISIS yang dapat merusak keutuhan dalam berkeyakinan dan bernegara, sudah seharusnya penumpasan ISIS dilakukan secepat mungkin. Tidak hanya oleh masyarakat Indonesia saja, melainkan perlu adanya dukungan pula dari pihak seluruh negara di dunia.
Perkuat militer dunia, pererat solidaritas antar bernegara dan toleransi antar beragama akan dapat melawan bahkan menghapus kekuatan ISIS. Tidak terlepas itu saja, kaum pelajar dan mahasiswa juga dapat ikut serta mencegah masuknya ISIS, namun dengan cara yang berbeda. Cara tersebut dapat dilakukan dengan belajar besungguh-sungguh, mendalami keyakinan yang dianutnya secara utuh tidak parsial serta mengimplemetasikan ilmu yang diperolehnya secara konseptual dan tidak merugikan orang lain. Dengan demikian paham ISIS ataupun paham radikal lainnnya tidak dapat memengaruhi pola pikir generasi muda. Sehingga terciptalah tata kehidupan berbangsa semakin tentram dan damai dalam keberagaman ras, suku, agama dan budaya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MAKALAH Pendidikan Seumur Hidup



PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP


MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Agus Khunaifi, M.Ag.


 
  





Disusun oleh :
Wahyu Windarti                     (133511038)
Anilta Rosikhatul Ulum          (133511042)
Wahyu Mufida Isnaini            (133511060)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013




PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah modal utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Dengan pendidikan akan meninggikan manusia dan merendahkan manusia yang lain, manusia akan dianggap berharga bila memiliki pendidikan yang berguna bagi sesamanya.
Masa dari pendidikan sangatlah panjang, banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan itu berlangsung hanya disekolah saja, tetapi dalam kenyataanya pendidikan berlangsung seumur hidup melalui pengalaman-pengalaman yang dijalani dalam kehidupanya. Islam juga menekankan pentingnya pendidikan seumur hidup.
Hal ini menunjukan bahwa pendidikan berlangsung tanpa batas yaitu mulai sejak lahir sampai kita meninggal dunia. Selain itu islam juga mengajarkan untuk mempelajari tidak hanya ayat qouliyah saja, tetapi ayat-ayat kauniyah, atau kejadian-kejadian di sekitar kita. Maka jelaslah sudah bahwa pendidikan seumur hidup itu sangat  benar  adanya didalam kehidupan kita.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian dan Tujuan Pendidikan Seumur Hidup?
2.      Apa Konsep Pendidikan Seumur Hidup?
3.      Bagaimana Implikasi Pendidikan Seumur Hidup pada Program-program Pendidikan?
4.      Bagaimana Pendidikan Seumur Hidup dalam Berbagai Perspektif?
II.    PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Tujuan Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan seumur hidup adalah suatu konsep, suatu idea.  Gagasan pokok dalam konsep ini ialah bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung selama seorang berlajar di lembaga-lembaga pendidikan formal, bahwa seseorang masih dapat memperoleh pendidikan kalau ia mau setelah ia selesai menjalani pendidikan formal. Ditekankan pula dalam konsep ini, bahwa pendidikan, dalam arti kata yang sebenarnya, adalah sesuatu yang berlangsung terus sepanjang kehidupan seseorang.[1]
Hidup (life) mempunyai tiga komponen yang saling berhubungan satu dengan lainnya, yaitu (1) individu, (2) masyarakat, dan (3) lingkungan fisik. Perjalanan manusia seumur hidup (lifelong) mengandung perkembangan dan perubahan yang mencakup tiga komponen, yaitu (1) tahap-tahap perkembangan individu (masa balita, masa kanak-kanak, masa sekolah, masa remaja, dan masa dewasa), (2) peranan-peranan sosial yang umum dan unik dalam kehidupan, yang berbeda-beda di setiap lingkungan hidup, dan (3) aspek-aspek perkembangan kepribadian (fisik, mental, sosial, dan emosional).[2]
Adapun tujuan untuk pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup ialah sebagai berikut:
1.      Mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin.
2.      Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung selama manusia hidup.[3]
3.      Konsep Pendidikan Seumur Hidup
B.     Konsep Pendidikan Seumur Hidup
Konsep pendidikan seumur hidup, sebenarnya sudah sejak lama dipikirkan oleh para pakar pendidikan dari zaman ke zaman. Apalagi bagi umat Islam, jauh sebelum orang-orang Barat mengangkatnya, Islam sudah mengenal pendidikan seumur hidup, sebagaimana dinyatakan oleh Hadis Nabi Muhammad Saw. Yang berbunyi:
 Ø§َØ·ْÙ„ُبُ الْعِÙ„ْÙ…َ Ù…ِÙ†َ الْÙ…َÙ‡ْدِ Ø¥ِÙ„َÙ‰ اللَّØ­ْدِ
“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai meninggal dunia”.
Konsep tersebut menjadi aktual kembali terutama dengan terbitnya buku AnIntroduction to Lifelong Education, pada tahun 1970 karya Paul Lengrand, yang dikembangkan lebih lanjut oleh UNESCO.
Asas pendidikan seumur hidup itu merumuskan suatu asas bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinu, yang bermula sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Proses pendidikan ini mencakup bentuk-bentuk belajar secara informal maupun formal baik yang berlangsung dalam keluarga, di sekolah, dalam pekerjaan dan dalam kehidupan masyarakat.
Untuk Indonesia sendiri, konsepsi pendidikan seumur hidup baru mulai dimasyarakatkan melalui kebijaksanaan Negara (TAP MPR NO.IV/MPR/1973jo.TAP NO.IV/MPR/1978 tentang GBHN) yang menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional.[4]
Adapun konsep-konsep kunci pendidikan seumur hidup ada 4, yaitu:
1.      Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri.
Sebagai suatu konsep, maka pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan.
2.      Konsep belajar seumur hidup.
Dalam pendidikan seumur hidup berarti pelajar belajar karena respon terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan-angan pendidikan menyediakan kondisi-kondisi yang membantu belajar.
3.      Konsep pelajar seumur hidup.
Pelajar seumur hidup dimaksudkan adalah orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar seumur hidup. Melihat belajar baru sebagai cara yang logis untuk mengatasi problema dan terdorong tinggi sekali untuk belajar diseluruh tingkat usia dan menerima tantangan dan perubahan seumur hidup sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.
4.      Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup.
Kurikulum, dalam hubungan ini didesain atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup betul-betul telah menghasilkan pelajar seumur hidup yang secara berurutan melaksanakan belajar seumur hidup.[5]
C.    Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program-program Pendidikan
Implikasai di sini diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Maksudnya adalah sesuatu yang merupakan tindak lanjut atau follow up suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Implikaasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ananda W.P. Guruge dalam bukunya Toward Better Educatinal Management, dapat dikelompokan menjadi bebarapa kategori berikut:
1.      Pendidikan Baca Tulis Fungsional
Baca tulis fungsional memuat dua hal, yaitu:
a.       Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik.
b.      Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya tersebut.

2.      Pendidikan Vokasional.
Pendidikan vokasional sebagai program pendidikan diluar sekolah bagi anak diluar batas usia sekolah, atau sebagai program pendidikan formal dan non formal dalam rangka apprentice ship training, merupakan salah satu program penting dalam rangka pendidikan seumur hidup.
3.      Pendidikan Profesional.
Sebagai realisasi pendidikan seumur hidup, dalam tiap-tiap profesi hendaknya telah tercipta built in mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi, dan sikap profesionalnya.Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi pekerja dan buruh, berlaku pula bagi profesional, bahkan tantangan buat mereka lebih besar.
4.      Pendidikan ke Arah Perubahan dan Pembangunan.
Diakui bahwa era globalisasi dan informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan iptek telah memengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, dari cara memasak yang serba menggunakan mekanik dan elektronik, sampai dengan cara menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja konsekuensinya menuntut pendidikan yang berlangsung secara continue (life long education).
Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan social dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari asas pendidikan seumur hidup.
5.      Pendidikan Kewarganegaraan dan Kedewasaan Politik.
Di samping tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dalam kondisi sekarang di mana pola pikir masyarakat semakin maju dan kritis, baik rakyat biasa maupun pemimpin pemerintahan di negara yang demokratis, diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga negara. Pendidikan seumur hidup yang bersifat continue dalam konteks ini merupakan konsekuensinya.
6.      Pendidikan Kultural dan Pengisian Waktu Senggang.
Orang-orang terpelajar diharapkan mampu memahami dan menghargai nilai-nilai agama, sejarah, kesusastraan, filsafat hidup, seni, dan music bangsanya sendiri. Pengetahuan tersebut dapat memperkaya hidupnya, terutama segi pengalaman yang memungkinkannya untuk mengisi waktu senggangnya dengan menyenangkan. Oleh karena itu, pendidikan cultural dan pengisian waktu senggang secara konstruktif akan merupakan bagian penting dari life long education.
Sementara itu implikasi konsep life long education ini pada sasaran pendidikan, juga diklasifikasikan dalam enam kategori, yaitu:
a.       Para buruh dan petani.
b.      Golongan remaja yang terganggu pendidikan sekolahnya.
c.       Para pekerja yang berketerampilan.
d.      Golongan teknisi dan professional.
e.       Para pemimpin dalam masyarakat.
f.       Golongan masyarakat yang sudah tua.[6]
D.    Pendidikan Seumur Hidup dalam Berbagai Perspektif.
1.      Tinjauan Ideologis.
Pendidikan seumur hidup atau long life education akan memungkinkan seseorang mengembangkan potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Pada dasarnya semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk  mendapatkan  pendidikan dan  peningkatan pengetahuan dan keterampilannya (skill).
2.      Tinjauan Ekonomis.
Pendidikan seumur hidup dalam konteks ini memungkinkan seseorang untuk:
a.       Meningkatkan produktivitasnya.
b.      Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya.
c.       Memungkinkan hidup dalam lingkungan yang lebih sehat dan menyenangkan.
d.      Memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya secara tepat sehingga peranan pendidikan keluarga menjadi sangat penting dan besar artinya.
e.       Tinjauan Sosiologis
Pada umumnya di negara-negara sedang berkembang ditemukan masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, anak-anak mereka yang kurang mendapatkan pendidikan formal, putus sekolah, dan atau tidak bersekolah sama sekali. Dengan demikian, pendidikan seumur hidup kepada orang tua akan merupakan solusi dari masalah tersebut.
3.      Tinjauan Filosofis
Negara-negara demokrasi menginginkan seluruh rakyatnya menyadari pentingnya hak memilih dan memahami fungsi pemerintah, DPR, DPD, dan sebagainya. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada setiap orang. Hal ini menjadi tugas pendidikan seumur hidup.
4.      Tinjauan Teknologis
Di era globalisasi seperti sekarang ini, tampaknya dunia dilanda oleh eksplosi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan berbagai produk yang dihasilkannya. Semua orang, tidak terkecuali para pendidik, sarjana, pemimpin dan sebagainya dituntut selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya, seperti apa yang terjadi di negara-negara maju.


5.      Tinjauan Psikologis dan Paedagogis
Pendidikan pada dasarnya dipandang sebagai pelayanan untuk membantu pengembangan personal sepanjang hidup, dalam istilah yang lebih luas yaitu development. Konseptualisasi pendidikan seumur hidup merupakan alat untuk mengembangkan individu-individu yang akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi masyarakat.[7]
III. PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan seumur hidup adalah sebuah system konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia.  Proses pendidikan seumur hidup berlangsung secara kontinue, dan tidak terbatas oleh waktu seperti pendidikan formal, proses belajar seumur hidup tidak hanya dilakukan seorang yang terpelajar tetapi semua lapisan masyarakat bisa melaksanakannya.
Penerapan cara berfikir menurut azas pendidikan seumur hidup itu akan mengubah pandangan kita tentang status dan fungsi sekolah, dimana tugas utama pendidikan sekolah adalah mengajar anak didik bagaimana caranya belajar, peranan guru terutama adalah sebagai motivator, stimulator dan penunjuk jalan anak didik dalm hal belajar, sekolah adalah pusat kegiatan belajar masyarakat sekitar. Sehingga dalam rangka pandangan mengenai pandidikan seumur hidup, maka semua orang secara potensial merupakan anak didik.
B.     Saran
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini agar menjadi lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.


DAFTAR PUSTAKA
Bukhori, Mochtar, Pendidikan dalam Pembangunan, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1994.
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.
Ihsan, Fuad, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta; Rineka Cipta, 2008.
Mudyahardjo, Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.
Salam,Burhanudin, Pengantar Pedagogik, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.














[1]Mochtar Bukhori, Pendidikan dalam Pembangunan (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya,1994), hlm.22
[2]Redja Mudyahardjo, Filsafat Ilmu Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2008), hlm.79
[3]Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2005), hlm.65-66
[4]Hasbullah, hlm.63-64
[5]Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan (Jakarta: Rineka Cipta,2008), hlm.45-46
[6]Hasbullah, hlm.70-74
[7]  Hasbullah,hlm.67-70

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS